Penjual Bakso, Peraih Guru Kreatif Kemendikbud RI

Assalamualaikum.wr.wb...
SALAM SEJAHTERA rekan-rekan sekalian kali ini Info Berita Pendidikan akan menyampaikan berita tentang ‎RPenjual Bakso, Peraih Guru Kreatif Kemendikbud RI, simak berita selengkapnya berikut ini.

Penjual Bakso, Peraih Guru Kreatif Kemendikbud RI
Pak Eko Kala Berjualan Bakso Di Sore Hari Usai Mengajar & Saat Memberikan Pengarahan Cara Kerja Alat Peraganya kepada Para Tentara Muda


Pak Eko Penjual Bakso, Peraih Guru Kreatif Kemendikbud RI  - Belajar Matematika bagi sebagian siswa tingkat SMP sangat sulit, namun tidak demikian di tangan Drs Juli Eko Sarwono. Pria yang sudah mengajar selama 29 tahun ini berhasil menciptakan alat peraga untuk pelajaran Matematika.

Juli Eko Sarwono (53), Guru Matematika, SMP Negeri 19 Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah tidak pernah bosan dan lelah mengabdi. Hal itu ia buktikan ketika ia bekerja menjadi guru SMP di Purworejo, Jawa Tengah. Setiap hari Eko harus menempuh jarak 36 KM untuk bisa sampai di Sekolah SMP 19 Purworejo, Jawa Tengah.

Pekerjaan itu ia lakukan setiap hari dengan tujuan mengabdi dan rasa ikhlas mendidik. Pak Eko menegaskan, ia mulai mengajar sejak tahun 1985 di sekolah SMP Muhammadiyah Magelang. Setelah tiga tahun mengabdi di SMP Muhammadiyah, ia kemudian diangkat menjadi PNS dan ditugaskan di SMP 19 Purworejo, Jawa Tengah.

"Saya sudah 29 tahun mengajar. Saya senang, meski jauh tidak pernah saya mengeluh." Terang Eko.

Menurut Eko, pekerjaan apapun tidak akan terasa sulit jika dilakukan denganrasa ikhlas dan senang hati. Pasalnya, dari pekerjaan itu ia akan mendapatkan kepuasaan dan tanggungjawab. Bahkan, ia juga akan merasa terhibur jika sudah bertemu dengan murid. Kini berkat kerja keras Eko, sekolah SMP 19 telah mendapatkan pengakuan sebagai sekolah bertaraf nasional dengan berbagai prestasi, terutama soal Matematika.

"Sejak saya menciptakan kreatifitas dengan metode peraga, sekolah mendapatkan pengakuan dari dunia dan Mendikbud." Terang Pak Eko

BELAJAR LEBIH MUDAH
Diakui Eko, selama ini banyak siswa tingkat SMP merasa kesulitan dalam belajar Matematika, bahkan rata - rata siswa tidak bisa mencerna pelajaran bahkan teori. Bukan hanya itu, hampir seluruh siswa untuk pelajaran Matematika nilainya 50 untuk ujian nasional. Nah, kendala itu membuat Eko berupaya untuk mencari solusi dengan menciptakan metode peraga. Ia menciptakan beberapa alat bantu, seperti kubus, kertas dan gambar untuk teori Matematika. Hasilnya sangat mencengangkan, nilai siswa kini sudah mencapai 80 dengan angka rata - rata.

"Syukur kepada Allah, dengan alat peraga, siswa cepat mengerti teori. Makanya, setiap pelajaran Matematika siswa diwajibkan membuat alat peraga." Ucapnya.

Menurut Eko, alat peraga itu untuk mengingat dan memudahkan siswa mengerti teori dan menghitung. Juga, alat tersebut bisa dibuat dengan bahan yang mudah, bahan dari sampah. Selama ini Eko menciptakan alat peraga dari kertas sampul rokok dan barang bekas seperti kertas. Tujuannya agar barang bekas tersebut tetap berguna dan mendapatkan nilai ekonomi.

"Saya diundang UNICEF karena alat peraga saya dari barang bekas. Mereka mengaku tertarik karena unik dan mudah didapat." terang Ayah dua anak ini.

Ditambahkan Eko, Meski telah mendapatkan apresiasi dari dunia luar dan penghargaan dari Kementrian Pendidikan RI, namun tidak banyak guru yang selama ini mencibirnya. Alasannya, metode yang digunakan Eko merusak tatanan siswa dan ruangan jadi kotor. Bukan hanya itu, Eko juga sering disebut guru gila karena selalu membawa barang bekas.

"Awal - awal saya menggunakan metode itu dianggap guru gila. Namun setelah saya diundang di beberapa televisi, baru guru yang lain simpati. Saya bersyukur kepada Allah, apa yang saya dapat adalah berkah doa dan dorongan dari keluarga." Ucap Eko

Ditambahkan Eko, dalam mendidik, dirinya berharap anak didik bisa pintar dengan nilai Unas mencapai 100. Alasannya, keberhasilan guru dalam mengajar bisa dilihat dari nilai, bukan dari rapi atau yang lain. Selama ini, banyak siswa sulit belajar Matematika, karena tidak adanya alat bantu belajar.

"Saya telah merubah paradikma belajar Matematika yang sulit menjadi mudah. Sekarang metode saya banyak ditiru." Ucapnya

Yang lebih penting, kata Eko, dari tugas mengajar adalah keberhasilan siswa dan siswa paham akan pelejaran, bukan target kurikulum. Ia mengkritik kebijakan pemerintah tentang sertifikasi guru yang harus mengejar jam mengajar dan setoran pelajaran. Kebijakan tersebut tidak akan menjadi siswa pandai, tetapi mementingkan ekonomi belaka. Juga, guru akan stres dan pusing karena harus memikirkan uang sertifikasi.

"Sekarang guru mikir uang sertifikasi, bukan mikir bagaimana mendidik siswa yang baik." Tegas Eko

Eko berharap pemerintah merubah pola pendidikan yang saat ini dianggap hanya mengerjakan nilai belaka, bukan mendidik menjadi anak bangsa yang pandai. Sebab itu, UUD 45 menghendaki anak bangsa pandai, bukan kerja, nilai dan ijazah.

"Seharusnya guru punya tanggung jawab mendidik, bukan mengejar materi." tuturnya

Perlu diketahui bahwa selain berprofesi sebagai guru Pak Eko dan beserta Keluarga juga merupakan penjual Bakso keliling di daerah tempat mereka tinggal, "Bakso Merakyat - Rasa Mendekati Nikmat" itulah nama Bakso dan Slogan Bakso Pak Eko, setiap pulang dari mengajar Pak Eko tidak lantas langsung beristirahat, meski sudah menempuh perjalanan 36 KM dari Purworejo ke daerah tempat ia tinggal Magelang. Pak Eko pulang mengajar langsung berjualan Bakso melanjutkan Istrinya yang sudah terlebih dulu berjualan yang dimulai dari Jam 2 Siang dan baru akan digantikan Pak Eko pada Jam 5 Sore hingga Jam 10 Malam.

SUMBER : LIPUTAN 6

Sekian Info Berita Pendidikan yang bisa kami sampaikan semoga bermanfaat dan terima kasi atas kunjungan anda sekalian.