Selamat pagi rekan-rekan guru sekalian Info Berita Pendidikan pagi ini mengabarkan terkait 7.000 guru akan dikirim ke 93 kabupaten daerah 3 T (terdepan, terluar, tertinggal).simak berita berikut ini.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) merekrut sebanyak 7.000 Guru Garis Depan (GGD) yang akan dikirim ke 93 kabupaten yang tersebar di 28 provinsi di seluruh Tanah Air.
"Tahun ini memang lebih banyak dibandingkan tahun sebelumnya, karena memang kebutuhannya akan guru itu besar," ujar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan di Jakarta, Jumat.
Program GGD merupakan solusi dari permasalahan kekurangan guru di daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (3T).
Pada tahun sebelumnya, jumlah GGD yang direkrut sebanyak 798 guru. Permintaan terbanyak berasal dari kabupaten-kabupaten yang ada di Nusa Tenggara Timur.
Salah satu prasyarat keikutsertaan GGD adalah pernah mengikuti Sarjana Mengajar Mendidik di Daerah 3T dan mengikuti Pelatihan Pendidikan Guru.
Sumber : antaranews
Sebanyak 7.000 guru akan dikirim ke 93 kabupaten daerah 3 T (terdepan, terluar, tertinggal). Mendikbud Anies Baswedan memberi semangat agar para guru muda ini memberikan insiprasi agar muncul generasi muda yang cerdas.
"Yang sekarang kita butuhkan anak-anak yang datang ke sana untuk mengajar, mendidik, dan menginspirasi. Jangan berpikir hanya menjadi guru. Namanya menjadi guru tapi perannya sebagai inspirator," kata Mendikbud Anies, di kantornya, Jl jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Jumat (13/5/2016).
Sebanyak 7.000 Guru Garis Depan yang direkrut tahun ini dikirim ke 93 kabupaten yang tersebar di 28 provinsi di seluruh Indonesia. Sebelumnya ada 1.000 Guru Garis Depan tahun 2015 yang direkruit sehingga tahun ini jumlahnya meningkat. Pada bulan September guru-guru ini akan dikirim ke tempat mereka ditugaskan.
Dalam acara ini telah ditandatangani MoU antara Kemendikbud dengan bupati daerah 3T tentang pengadaan calon pegawai negeri sipil guru garis depan tahun 2016. Diantara bupati yang hadir adalab bupati Sorong, bupati kabupaten Nias Provinsi Sumut, bupati Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur, Bupati kabupaten Bengkalis Provinsi Riau, dll.
Anies mengakui bahwa guru-guru yang dikirim ke daerah 3T memang memiliki kendala yang berat seperti medan, ketersediaan listrik, infrastuktur yang menantang. Akan tetapi, Anies berpesan bahwa guru-guru tersebut berperan dalam pencerdasan generasi muda sehingga pengetahuan pun masuk ke dalam tempat-tempat yang ditugaskan.
"Jadi bukan sekedar program ini dari tempat yang sama ke tempat yang sama tapi membuat tenun menjadi satu. Kita semua termasuk yang beruntung karena kita berinteraksi dengan ragam etnik dan budaya, tapi jutaan orang Indonesia lain yang tidak pernah berinteraksi," ujar Anies.
Kemudian dia mencontohkan sebuah perumpamaan bila guru-guru tersedia di daerah 3T seperti layaknya minimarket, maka ia banyak anak muda yang mendapat pendidikan. Tugas Guru Garis Depan ini nantinya tidak sekadar mengajar karena mempererat persaudaraan yang terjalin yang berasal dari beda-beda daerah.
"Ini seperti benang yang merajut tenun kebangsaan mereka di create. Mereka merajut NKRI dan mengajar ke tempat-tempat. Membuat rumah baru, saudara baru bukan sekadar mengajar, tapi mempererat tenun.
Meningkatnya jumlah Guru Garis Depan ini karena Indonesia memiliki kebutuhan yang besar di daerah terpencil. Anies berharap bahwa guru yang dikirim ke daerah 3T tidak berkecil hati.
"Ini kan putra daerah karena kita kan putra nasional. Putra Indonesia dari Minang bertugas ke Kalbar. Kita ingin kesempatannya sama. Memang ada guru-guru honorer bisa mengikuti progtam ini juga dan kita harap program ini tidak selesai tahun ini. Justru yang kita ingin kan dari guru kita pada intinya lintas wilayah dan bisa jd pererat di tempat baru, meski perlu penyesuaian," kata Anies.
(rvk/rvk).
Sumber : Detik
Demikian Info Berita Pendidikan pagi ini. Terimakasih atas kunjungan rekan-rekan guru sekalian semoga bermanfaat.
![]() |
| Menbuddikdasmen Anies Baswedan |
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) merekrut sebanyak 7.000 Guru Garis Depan (GGD) yang akan dikirim ke 93 kabupaten yang tersebar di 28 provinsi di seluruh Tanah Air.
"Tahun ini memang lebih banyak dibandingkan tahun sebelumnya, karena memang kebutuhannya akan guru itu besar," ujar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan di Jakarta, Jumat.
Program GGD merupakan solusi dari permasalahan kekurangan guru di daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (3T).
Pada tahun sebelumnya, jumlah GGD yang direkrut sebanyak 798 guru. Permintaan terbanyak berasal dari kabupaten-kabupaten yang ada di Nusa Tenggara Timur.
Salah satu prasyarat keikutsertaan GGD adalah pernah mengikuti Sarjana Mengajar Mendidik di Daerah 3T dan mengikuti Pelatihan Pendidikan Guru.
Sumber : antaranews
Sebanyak 7.000 guru akan dikirim ke 93 kabupaten daerah 3 T (terdepan, terluar, tertinggal). Mendikbud Anies Baswedan memberi semangat agar para guru muda ini memberikan insiprasi agar muncul generasi muda yang cerdas.
"Yang sekarang kita butuhkan anak-anak yang datang ke sana untuk mengajar, mendidik, dan menginspirasi. Jangan berpikir hanya menjadi guru. Namanya menjadi guru tapi perannya sebagai inspirator," kata Mendikbud Anies, di kantornya, Jl jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Jumat (13/5/2016).
Sebanyak 7.000 Guru Garis Depan yang direkrut tahun ini dikirim ke 93 kabupaten yang tersebar di 28 provinsi di seluruh Indonesia. Sebelumnya ada 1.000 Guru Garis Depan tahun 2015 yang direkruit sehingga tahun ini jumlahnya meningkat. Pada bulan September guru-guru ini akan dikirim ke tempat mereka ditugaskan.
Dalam acara ini telah ditandatangani MoU antara Kemendikbud dengan bupati daerah 3T tentang pengadaan calon pegawai negeri sipil guru garis depan tahun 2016. Diantara bupati yang hadir adalab bupati Sorong, bupati kabupaten Nias Provinsi Sumut, bupati Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur, Bupati kabupaten Bengkalis Provinsi Riau, dll.
Anies mengakui bahwa guru-guru yang dikirim ke daerah 3T memang memiliki kendala yang berat seperti medan, ketersediaan listrik, infrastuktur yang menantang. Akan tetapi, Anies berpesan bahwa guru-guru tersebut berperan dalam pencerdasan generasi muda sehingga pengetahuan pun masuk ke dalam tempat-tempat yang ditugaskan.
"Jadi bukan sekedar program ini dari tempat yang sama ke tempat yang sama tapi membuat tenun menjadi satu. Kita semua termasuk yang beruntung karena kita berinteraksi dengan ragam etnik dan budaya, tapi jutaan orang Indonesia lain yang tidak pernah berinteraksi," ujar Anies.
Kemudian dia mencontohkan sebuah perumpamaan bila guru-guru tersedia di daerah 3T seperti layaknya minimarket, maka ia banyak anak muda yang mendapat pendidikan. Tugas Guru Garis Depan ini nantinya tidak sekadar mengajar karena mempererat persaudaraan yang terjalin yang berasal dari beda-beda daerah.
"Ini seperti benang yang merajut tenun kebangsaan mereka di create. Mereka merajut NKRI dan mengajar ke tempat-tempat. Membuat rumah baru, saudara baru bukan sekadar mengajar, tapi mempererat tenun.
Meningkatnya jumlah Guru Garis Depan ini karena Indonesia memiliki kebutuhan yang besar di daerah terpencil. Anies berharap bahwa guru yang dikirim ke daerah 3T tidak berkecil hati.
"Ini kan putra daerah karena kita kan putra nasional. Putra Indonesia dari Minang bertugas ke Kalbar. Kita ingin kesempatannya sama. Memang ada guru-guru honorer bisa mengikuti progtam ini juga dan kita harap program ini tidak selesai tahun ini. Justru yang kita ingin kan dari guru kita pada intinya lintas wilayah dan bisa jd pererat di tempat baru, meski perlu penyesuaian," kata Anies.
(rvk/rvk).
Sumber : Detik
Demikian Info Berita Pendidikan pagi ini. Terimakasih atas kunjungan rekan-rekan guru sekalian semoga bermanfaat.
